Advertisement
Bingung Mau Bisnis Apa saat Pandemi, Usaha Pasutri Ini Bisa Jadi Inspirasi

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Pandemi membuat perekonomi sebagian besar orang terdampak, tetapi bagi sebagian yang lain justru menjadi momen kebangkitan. Inilah yang dialami oleh pasangan suami istri yang merintis usaha Bunga Kering Jogja.
Melalui akun Instagram @bungakeringjogja, pasutri itu memasarkan berbagai bunga kering lokal yang mereka keringkan sendiri. Usaha ini dimulai Sofu dan Hassan, pasangan tersebut, secara tidak sengaja begitu pandemi mulai melanda di akhir 2019.
Advertisement
Tadinya, Sofu merupakan seorang ibu rumah tangga yang sesekali berjualan buket bunga segar setiap momen wisuda. Sementara sang suami, Hassan, tadinya merupakan karyawan sebuah toko di Jogja yang harus diberhentikan dari pekerjaannya sejak pandemi melanda.
Suatu kali, mereka hendak berjualan buket bunga untuk momen wisuda. Namun, lantaran tidak laku, bunga-bunga segar itu dibawa pulang kembali. Lama-kelamaan, bunga itu mengering. Sebagian yang masih bagus diambil Sofu untuk dirangkai menjadi buket bunga kering.
"Kulihat-lihat kok bagus ya, terpikir apakah bunga kering ini masih layak jual atau tidak. Terus ada info wisuda lagi. Rangkaian bunga kering ini kubawa dan ternyata laku, dari situ aku tertarik mengeringkan bunga-bunga segar lain yang kemarin enggak laku," kata dia, Minggu (13/2/2022).
Sekembalinya ke rumah, dia memilah bunga-bunga yang tersisa. Bunga yang masih bagus dan utuh ia coba gantung supaya kering alami. Dia juga mencoba membuat akun Instagram untuk menawarkan bunga itu di media sosial.
Saat itu, kata dia, tren berjualan bunga kering belum marak seperti sekarang sehingga ia masih meraba pasar dan mengira-ira apakah bunga keringnya diminati. Meski demikian, Sofu tetap mencoba mengeringkan bunganya dan menawarkannya ke media sosial.
"Awalnya mawar, terus coba mengeringkan bunga yang lain juga. Dari situ ternyata banyak yang beli. Seiring berjalannya waktu kucari inovasi bunga apa sih yang bisa dikeringkan sendiri, coba-coba saja secara autodidak," ujarnya.
Dia menjelaskan, teknik pengeringan bunga setidaknya ada dua, yaitu metode pengeringan alami dengan matahari serta menggunakan bahan kimia. Namun, lantaran keterbatasan modal, Sofu tidak langsung menjajal pengeringan dengan bahan kimia.
Dia pun hanya menggantung bunganya dan mengandalkan cahaya matahari untuk membantu pengeringan.
"Kami lama sekali mencari tahu bagaimana hasil yang sempurna itu. Waktu itu juga di Youtube belum ada tutorial mengeringkan bunga dengan bahan kimia, yang ada hanya mengeringkan bunga dengan digantung aja. Lalu perlahan coba beli bahan kimia satu per satu, bagaimana caranya biar tanaman ini nggak rontok, nggak menjamur, dan awet," kata dia.
Luar Jawa
Setelah ditekuni, rupanya bunga kering ini banyak diminati. Sofu dan Hassan kemudian menyeriusi usaha ini menjadi bisnis mereka berdua untuk bertahan selama pandemi.
Beragam bunga lokal coba mereka keringkan. Setelah berhasil, mereka unggah hasilnya ke Instagram. Mulanya, pembelinya didominasi perorangan. Tak jarang pembeli juga menanyakan stok bunga kering impor sehingga Sofu dan Hassan mulai menambah stok bunga impor sebagai pilihan kepada pembeli.
"Sekarang jadi grosir. Kami mengisi stok ke beberapa florist di Jogja, luar Jogja, bahkan sampai luar Jawa. Sekarang juga sudah jualan di marketplace," kata dia.
Di platform lokapasar, Bunga Kering Jogja menjual bunga keringnya secara eceran mulai dari harga Rp5.000-Rp45.000 per ikat. Sementara untuk harga grosir, harganya sekitar Rp3.000-Rp5.000 lebih murah dibanding eceran.
"Omzet saat awal-awal tren bunga kering itu kami bisa mendapatkan Rp30 juta tiap bulan Lumayan sih, tapi semakin kesini omzet makin berkurang, meskipun jumlah pelanggan makin bertambah," ujar dia.
Meski kini sudah banyak pesaing dalam bisnis serupa, Sofu dan Hassan berupaya menyuguhkan bunga kering terbaik yang mereka produksi sendiri. Kini, proses pengeringan yang mereka lakukan tak hanya pengeringan alami, tetapi juga menggunakan bahan kimia dan pewarna.
"Kami kan ada reseller juga. Nah, bunga kering kami itu ada yang dikirim sampai Australia, lewat reseller saya," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Muhammadiyah Membangun Pusat Distribusi Barang untuk Warung Kelontong
- Setelah Bali Kini Giliran Bekasi Blackout, PLN Berjibaku Membenahi Jaringan Listrik
- Presiden Prabowo Umumkan Sejumlah Kebijakan untuk Pekerja di Hari Buruh
- Kasus Dugaan Korupsi Sritex Disidik Kejaksaan Agung
- Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Indonesia Bakal Ditentukan dari Daerah
Advertisement

Tak Hanya Kasus Mbah Tupon, Dugaan Mafia Tanah di Bantul Juga Terjadi di Tamantirto Kasihan
Advertisement

Asyiknya Interaksi Langsung dengan Hewan di Kampung Satwa Kedung Banteng
Advertisement
Berita Populer
- Sstt.. Ini Loh, Rahasia Perawatan yang Bisa Bikin Anda Tampil Seperti Putri Keraton
- Meski Tanah Mbah Tupon Tidak Jadi Dilelang, Peminjam PNM Diwajibkan Mengembalikan Dana Rp1,5 Miliar
- BPR Profidana Berusia 35 Tahun, Solid di Internal dan Bermanfaat untuk Masyarakat
- Rencana Revisi Undang-Undang Hak Cipta Didukung Menteri Ekonomi Kreatif, Ini Alasannya
- Gubernur Bali Apresiasi Gerak Cepat PLN Atasi Gangguan Kelistrikan
- Setelah Bali Kini Giliran Bekasi Blackout, PLN Berjibaku Membenahi Jaringan Listrik
- Muhammadiyah Membangun Pusat Distribusi Barang untuk Warung Kelontong
Advertisement