Advertisement
Harga Emas 2026 Diramal Tembus Rp4,2 Juta per Gram
Produk emas Antam. / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Prospek harga emas 2026 diprediksi melanjutkan tren penguatan di tengah memanasnya geopolitik global, dinamika politik Amerika Serikat, hingga arah kebijakan moneter dan ketidakseimbangan pasokan serta permintaan. Bahkan, harga emas di dalam negeri diproyeksikan bisa menembus Rp4,2 juta per gram pada 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia berpotensi mencapai US$6.500 per troy ounce pada 2026. Sejalan dengan proyeksi tersebut, harga emas Indonesia diperkirakan dapat menyentuh Rp4,2 juta per gram apabila tekanan global terus berlanjut.
Advertisement
“Masalah geopolitik yang terus memanas mempengaruhi harga emas dunia,” ujar Ibrahim, Minggu (22/2/2026).
Ia menjelaskan, eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkat, terutama apabila terjadi konfrontasi langsung yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini dinilai dapat memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
BACA JUGA
Selain faktor geopolitik, dinamika politik domestik di Amerika Serikat juga disebut turut memperbesar risiko global. Putusan Mahkamah Agung yang menyatakan kebijakan perang dagang ilegal serta revisi kebijakan tarif kembali memicu tensi politik di negara tersebut.
Ibrahim juga menyoroti potensi pemilu sela yang dinilai dapat meningkatkan suhu politik di AS. Ketidakpastian tersebut, menurutnya, mendorong investor global untuk mengalihkan portofolio ke instrumen lindung nilai seperti emas.
Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim memproyeksikan bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada 2026 dengan total penurunan sebesar 50 basis poin.
“Kita lihat nanti bagaimana arah kebijakan Fed di bawah kepemimpinan selanjutnya,” ucapnya.
Dari aspek fundamental, keterbatasan pasokan emas global juga menjadi faktor pendorong harga emas 2026. Ia memperkirakan sekitar 80 perusahaan tambang emas dunia hanya memiliki proyeksi produksi hingga 2028, sehingga suplai dinilai relatif terbatas.
Di sisi lain, permintaan emas disebut masih tinggi. Ketidakseimbangan antara supply dan demand ini diperkirakan menciptakan tekanan kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Ibrahim menambahkan, sejumlah lembaga keuangan global juga telah merevisi proyeksi harga emas. UBS mematok potensi harga hingga US$6.200 per troy ounce pada 2026. Sementara itu, J.P. Morgan sebelumnya memproyeksikan US$6.200 sebelum kemudian merevisinya menjadi US$6.000.
Adapun Ibrahim mengingatkan investor agar tidak terjebak pada orientasi investasi jangka pendek.
“Jangka pendek biasanya dipengaruhi isu geopolitik dan politik. Jangka menengah, jangka panjang itu akan mendapatkan keuntungan yang cukup maksimal,” ujarnya. Ia menekankan bahwa strategi investasi emas 2026 perlu mempertimbangkan faktor fundamental global agar potensi keuntungan dapat dioptimalkan seiring tren penguatan harga emas yang masih terbuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
- Cek Saldo Minimum Mandiri, BRI, BNI Terbaru Februari 2026
Advertisement
BMKG Yogyakarta Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem hingga 25 Februari
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








