Indonesia Masih Resesi, Kemenkeu Anggap Lebih Baik Dibandingkan Negara Lain

Indonesia Masih Resesi, Kemenkeu Anggap Lebih Baik Dibandingkan Negara LainSimpang Susun Semanggi di Jakarta, Jumat (14/7). Jalan layang sepanjang 1,6 kilometer yang mengelilingi Bundaran Semanggi untuk mengurangi kemacetan di kawasan tersebut bakal dilakukan uji coba pada 29 Juli hingga 16 Agustus 2017 sebelum diresmikan pada 17 Agustus 2017. - Antara/Sigid Kurniawan
06 Mei 2021 17:17 WIB Jaffry Prabu Prakoso Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Indonesia masih mengalami resesi setelah realisasi produk domestik bruto (PDB) pada triwulan I/2021 minus 0,7%. Meski begitu, pemerintah mengakui pemulihan pemulihan ekonomi sudah solid.

Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kemenkeu Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan bahwa ekonomi Indonesia terus membaik dan konsisten sejak mengalami kontraksi terdalam pada kuartal II/2021, yaitu minus 5,32 persen.

“Memang hampir rata-rata negara lain di kuartal I/2021 semua meningkat. Tapi Indonesia termasuk lebih baik dari negara lain,” katanya melalui diskusi virtual, Kamis (6/5/2021).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beberapa negara yang tumbuh yaitu China 18,3 persen, Amerika Serikat 0,4 persen, Singapura 0,2 persen, Korea Selatan 1,8 persen, Vietnam 4,5 persen, dan Hongkong 7,8 persen. Sedangkan, kawasan yang masih mengalami kontraksi adalah Uni Eropa, yaitu minus 1,7 persen.

Kunta menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga ada yang naik ataupun turun di awal tahun. Ini terlihat dari indikator pergerakan dari Google, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan mobil.

Investasi diperkirakan menunjukkan perbaikan ditinjau dari perumbuhan positif impor, barang modal, dan konsumsi semen.

Lalu indikator sisi produksi diprediksi menunjukkan perbaikan terutam dari pertanian, manufaktur, dan perdagangan. Ini tercermin dari purchasing managers indeks (PMI) dan impor bahan baku.

Sementara perdagangan internasional diperkirakan tumbuh positif di triwulan I/2021 dengan kecenderungan net ekspor yang lebih sempit.

Di sisi lain, lembaga internasional mengubah proyeksi ekonomi global untuk 2021. International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas menjadi 6 persen atau naik 0,5 persen dari sebelumnya. Begitu pula Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) jadi 5,6 persen atau naik 1,6 persen.

“Ini perkembangan poisitif global. Dari sisi PMI manufaktur sudah mencpaia 55, kemudian pasar keuangan stabil, voltalitas naik turun, dan harga komoditas terus meningkat,” jelas Kunta.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia