Advertisement

Jomblo Jadi Alasan Utama Kaum Milenial Tak Beli Rumah

Finna U. Ulfah
Minggu, 25 November 2018 - 23:56 WIB
Nugroho Nurcahyo
Jomblo Jadi Alasan Utama Kaum Milenial Tak Beli Rumah Deretan rumah tapak di kawasan Padasuka Atas, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Rachman

Advertisement

Harianjogja.com JAKARTA - Berdasarkan survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2-2018, sebanyak 59% dari total milenial yang masih belum memiliki rumah dan tinggal di rumah orang tua, menjadikan faktor masih jomblo (jomlo) atau belum menikah, sebagai alasan untuk belum memiliki rumah.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan berpendapat bahwa hasil survei ini menunjukkan bahwa keputusan untuk membeli rumah masih amat dipengaruhi oleh budaya ketimuran, yaitu melihat rumah sebagai kebutuhan bagi orang yang sudah berkeluarga sehingga mayoritas orang yang belum menikah atau jomblo belum berpikir untuk membeli rumah.

Menurutnya, pemikiran seperti itu perlu dipertimbangkan ulang. Saat sudah menikah, apa lagi punya anak, katanya, kebutuhan finansial akan semakin besar. Bahkan saat menggelar persepsi pernikahan butuh biaya yang besar. Apalagi persiapan memiliki anak yang butuh dana persalinan.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

“Lalu masa depan anak-anak dan kebutuhan sehari-hari. Jika ditambah dengan biaya cicilan rumah, beban finansial itu akan semakin besar. Yang banyak terjadi, kebutuhan membeli rumah akhirnya dikorbankan dan sebuah keluarga mengandalkan tinggal di rumah orang tua," ujar Ike, Minggu (25/11/2018).

Selain itu, sebanyak 53% milenial mengaku ketidakmampuan dan belum memiliki uang yang cukup adalah alasan kedua milenial belum memiliki hunian. Alasan lain, yaitu sebanyak 47% milenial menjawab menjaga orang tua sebagai alasan belum memiliki hunian.

Ike mengatakan usia muda adalah usia yang tepat untuk mulai mempersiapkan diri membeli hunian, karena beban penghasilan belum terlalu tinggi.

Untuk yang memiliki jenis pekerjaan formal, lanjutnya, skema pembiayaan cicilan tetap dengan jangka waktu yang panjang dapat dipilih, sedangkan untuk yang pekerja sektor informal dapat mengumpulkan uang hasil proyek pekerjaan secara cermat untuk dijadikan uang muka agar beban cicilan tidak terlalu besar.

"Beban finansial saat menikah nanti bisa lebih ringan, sehingga bisa membina rumah tangga dengan lebih mandiri di rumah sendiri. Ditambah lagi, semakin lama menunggu, harga rumah akan semakin tinggi," ujar Ike.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Ratusan Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Terima Beasiswa Pendamping PKH

Sleman
| Minggu, 25 September 2022, 23:37 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement