Wajah Baru Pasar Tradisional sebagai Kawasan Digital

Wajah Baru Pasar Tradisional sebagai Kawasan DigitalSisi depan Pasar Prawirotaman yang masih dalam proses pembangunan, Selasa (28/4). Gedung empat lantai yang dilengkapi fasilitas lantai bawah tanah dan rooftop ini menjadi upaya Pemerintah Kota Jogja untuk mengawinkan konsep pasar tradisional dan modern sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya./Harian Jogja - Mediani Dyah Natalia
30 April 2020 20:47 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Di tengah situasi tak menentu seperti saat ini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat menjadi penyelamat maupun penggerus peradaban. Membumikan teknologi sesuai dengan kearifan lokal menjadi sekoci untuk mereduksi kemungkinan terakhir. Termasuk menjaga kelanggengan pasar tradisional untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19 maupun gempuran perubahan tren di masa depan.   

Covid-19 memaksa setiap orang beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Para pelaku usaha di setiap lini, bahkan pasar tradisional pun dituntut menyesuaikan diri demi menekan persebaran virus Corona sekaligus dapat bertahan hidup.

Lurah Pasar Kranggan Sungkana mengatakan sejak ada imbauan pembatasan fisik, jumlah pengunjung di wilayah kerjanya turun antara 60%-70%. Menginjak Ramadan hari kedua dan ketiga, baru terlihat ada peningkatan jumlah pengunjung. Namun situasi ini pun belum dapat dikategorikan normal, karena Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja tetap memberikan amanat tegas, yakni mengurangi kerumunan. Alhasil jam operasional dari pukul 07.00-13.00 WIB tetap diterapkan.

Namun, kata dia, bukan berarti pihaknya tidak peduli nasib para bakul pasar. Menggandeng decacorn superapp, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau lebih dikenal dengan nama Gojek, Disperindag Kota Jogja berusaha memfasilitasi para pedagang pasar untuk menjajakan dagangannya. “Ada sekitar 600 pedagang di sini dan kami sudah menyerahkan data supaya bisa mulai berjualan online tetapi jumlahnya masih sedikit. Mungkin karena masih baru, jadi belum banyak. Selain itu, mungkin pedagang masih butuh waktu menyesuaikan dan belajar transaksi online,” katanya kepada Harian Jogja, Selasa (28/4).  

Pihak Pasar Kranggan juga sudah memberikan ruang khusus bagi pengemudi ojek online (ojol) di selatan pasar. Kebijakan ini diterapkan untuk mempermudah mobilitas ojol sekaligus memberikan signal kepada siapapun yang lalu lalang di seputar Jl. P. Diponegoro jika pasar tradisonal pun berbenah untuk mendekatkan diri kepada masyarakat.

Pedagang di Pasar Kranggan, Jogja, Danang bersiap mengantarkan pesanan bahan makanan ke rumah pelanggan, Selasa (28/4). Pandemi Covid-19 dan sepinya penjualan tak menyurutkan niat Danang untuk menjajakan dagangan. Memanfaatkan Internet dan media sosial, Danang tidak hanya memutar roda perekonomian keluarganya tetapi juga berbagi rezeki kepada sesama pedagang pasar tradisional yang lain./Harian Jogja/Mediani Dyah Natalia

Pedagang Pasar Kranggan, Danang menuturkan meski mendapat fasilitas dari Disperindag Kota Jogja mempromosikan usaha dengan sejumlah mitra, dia justru telah memulai transaksi daring sebelum adanya kerja sama tersebut. “Saya biasanya memasok bahan makanan ke restoran dan hotel tetapi awal pandemi pasar sepi. Saya memutar otak. Akhirnya saya menawarkan saja barang dagangan sekaligus jasa mengantar barang ke teman-teman di Fakultas Kedokteran UGM dan LSM melalui Whatsapp. Ternyata yang saya kirim juga dibagikan ke orang banyak. Lalu banyak yang pesan. Kemudian saya juga mulai jualan di Facebook, itu juga ramai,” ujarnya.

Usaha yang semula sunyi pun berubah menjadi riuh. Dalam sehari dia bisa mengantar bahan makanan ke 20-25 titik lokasi. Guna memenuhi permintaan pasar yang tinggi dan menyiasati domisili pembeli yang tersebar di berbagai wilayah di DIY, dia pun berusaha melempar informasi ini sesama penjual pasar tradisional. Misal, lokasi pembeli di sisi utara, dia akan menghubungi teman yang berada di titik terdekat konsumen. Upaya ini selain untuk menghemat waktu dan tenaga juga menjadi kesempatan berbagi rezeki di situasi yang serba sulit ini.  

 Kebutuhan Sekunder

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Ujun Junaedi menyampaikan hingga selama sebulan terakhir, pedagang di Pasar Beringharjo sisi barat dan tengah tutup. Sedangkan di beberapa bagian masih ada yang buka. Penutupan ini, kata dia, merupakan bentuk kepatuhan menerapkan physical distancing. Selain itu, upaya ini sebagai cara memproteksi diri sendiri dan banyak orang. “Percuma juga buka karena tidak ada pengunjung. Sebelum wabah, kami sudah kena krisis ekonomi global, omzet menukik, hanya sekitar 80 persen dibanding tahun lalu. Datanglah Corona, ibaratnya kondisi kami jatuh tertimpa tangga,” ujarnya kepada Harian Jogja, Senin (20/4).

Meski tutup, bukan berarti tak ada tanggungan. Apalagi kurang dari sebulan Idulfitri bakal dirayakan. Namun para pedagang pun harus rela melepas keuntungan yang biasa diteguk tiap tahun. Di satu sisi mereka harus berhadapan dengan realita membayar utang yang diakses sebagai modal kulakan Lebaran 2020.

Beruntung Pemkot Jogja sigap memberikan keringanan retribusi, baik pengurangan maupun pembebasan. Besar kecilnya terganung klasifikasi yang ditetapkan Disperindag Kota Jogja, seperto luas kios, jenjang hingga jenis dagangan. “Alhamdulilah, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), pemerintah dan lembaga keuangan juga menerapkan relaksasi. Bank pemerintah pun sigap menghubungi kami untuk meringankan beban. Namun untuk bank swasta, kami gelisah. Kami harap juga difasilitasi. Kami tidak mengharapkan pembebasan karena akan kami bayar jika situasi kembali kondusif,” harapnya.

Transaksi daring bukanlah hal yang baru bagi Ujun dan pedagang di lantai II Pasar Beringharjo. Berbagai platform juga pernah dijajal, seperti Whatsapp Group, Instagram hingga memilih dagang-el ternama. Namun upaya ini tak membuahkan hasil. Publik mengerem pengeluaran dan memprioritaskan pemenuhan pangan. “Fesyen ini barang sekunder. Bagi konsumen jika masih ada yang dipakai, pembelian pakaian bisa ditunda. Tidak seperti sembako yang harus dibeli,” papar dia.

Senada, Kepala UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Sri Riswanti, menyampaikan pelaku usaha di lantai II dan III Pasar Beringharjo dengan jenis dagangan konveksi hingga kerajinan terpukul dengan situasi ini. Pihaknya pun berusaha bergerak demi kesejahteraan anggota. Selain menggandeng Goshop dari Gojek maupun dagang-el populer, UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo kembali mempopulerkan aplikasi yang dimiliki Disperindag Kota Jogja

“Ada di Playstore dan bisa langsung diunduh. Namun aplikasi tersebut sebatas etalase belum marketplace. Di dalamnya ada informasi jenis dagangan, harga hingga contact persons yang bisa dihubungi. Ke depan kami akan mengembangkan aplikasi menjadi advance,” paparnya, Senin (27/4).

Dia menilai untuk mengembangkan transaksi daring yang paling dibutuhkan pedagang adalah pendampingan. Sebab tak semua penjual mau mengakses teknologi walau mereka mampu melakukannya.

“Sistem sudah kami bangun tetapi yang terpenting saat ini adalah daya beli. Apalagi teman-teman di lantai II dan III ini dagangannya kebutuhan sekunder. Jika daya beli pulih, pedagang akan antusias,” ujarnya.

Berbagai Cara

Kabid Penataan Peningkatan Pendapatan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja, Gunawan Nugroho Hutomo menyampaikan implementasi transaksi daring sudah diterapkan sebelum pandemi Covid-19. Ada tiga mekanisme yang dipilih, pertama membagi hiperlink yang berisi data pedagang pasar tradisional berikut nomor Whatsapp dan jenis barang yang diperdagangkan. Kedua bekerja sama dengan aplikasi lokal, Titipku per 10 April 2020 untuk mempromosikan barang dagangan para bakul pasar dan ketiga bekerja sama dengan Gojek mulai pekan lalu.

Ditanya mengenai kesulitan pedagang pasar mengakses TIK, Gunawan menuturkan dari tiga mekanisme tersebut, aplikasi Goshop di Gojek sebenarnya tidak membutuhkan keterampilan tertentu untuk melayani konsumen. Bahkan pedagang tak perlu memiliki atau membuka telepon genggam untuk melayani pembeli. Driver ojol lah yang bertugas berbelanja dan mengantar ke konsumen. Pedagang cukup melayani permintaan konsumen yang disuarakan pengemudi ojol. Sementara waktu, kerja sama ini dilakukan di enam pasar, Beringharjo, Sentul, Legi Patangpuluhan, Demangan, Kranggan dan Kotagede. Tidak menutup kemungkinan kerja sama diperluas sehingga 30 pasar tradisional yang mewadahi 15.000 pedagang di Kota Jogja dapat mengakses transaksi ini. “Pak Wakil Wali Kota [Heroe Poerwadi] juga menyebutkan ini momentum atau kesempatan dalam kesempitan. ‘Tangga darurat’ mengedukasi pedagang untuk membesarkan pasar tradisional menggunakan TIK,” katanya.  

Meski disebut pasar tradisional, prinsip berbisnis seperti menjaga kepercayaan pelanggan tetap dikedepankan. Disperindag pun mengeluarkan nota lengkap dengan cap basah untuk mengesahkan pembelian. Petugas Disperindag Kota Jogja akan dikerahkan untuk memfasilitasi ini.

Selebihnya, ujar Gunawan, para pedagang juga diedukasi untuk memberikan pelayanan terbaik. “Konsumen diwakili ojol berbelanja. Mungkin karena yang dibeli banyak atau diburu waktu, ojol tidak sempat memperhatikan kualitas barang. Karena itu kami mengedukasi pedagang untuk menjual barang yang berkualitas. Misal beli sayur, beri yang masih bagus, jangan dikasih yang layu. Kami tekankan tanggung jawab sosial yang sama layaknya saat pedagang berinteraksi langsung denga pembeli,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Head Regional Corporate Affair Gojek Jawa Tengah-DIY, Arum Prasodjo mengatakan saat pandemi Covid-19, Gojek melihat pelaku UMKM tradisional perlu didukung agar mereka punya peningkatan pendapatan. “Kami memberikan kemudahan masyarakat berbelanja kebutuhan pokok dari rumah, juga memberikan pendapatan tambahan untuk mitra driver Gojek,” kata dia, Senin (27/4). 

Melestarikan Pasar Tradisional

Kepala Disperindag Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono menyampaikan setelah pandemi berakhir, transaksi daring terus akan dikembangkan. Menurut dia, upaya ini sejalan dengan hasil survei yang pernah dilakukan pada 2019, yakni jumlah pengunjung pasar tradisional menurun tetapi omzet meningkat. “Transaksi daring memang tidak bisa dihindari. Arus ini [perubahan tren] harus diikuti,” kata dia, Jumat (24/4).

Gunawan menuturkan pasar tradisional bukan hanya tempat bertransaksi bisnis. Lebih dalam lagi, ada hubungan sosial yang terjalin tidak hanya antara pembeli dan penjual tetapi juga setiap peran yang ada di dalamnya. Seperti penyuplai, petugas parkir, karyawan kios hingga butuh gendong. Karena itu, meski zaman mendorong pasar tradisional untuk go digital tetapi kearifan lokal yang tertanam harus tetap dipertahankan. “Kami menjaga agar pasar ilang kumandange tidak terjadi. Roh yang ada seperti tawar-menawar atau interaksi sosial lain tetap dapat terjaga,” ujar dia.

Upaya-upaya ini diharapkan dapat memperpanjang usia pasar tradisional di tengah modernitas. “Pasar Beringharjo misalnya. Kami ada 5.000-6.000 pedagang. Jika satu pedagang punya satu karyawan saja sudah ada 10.000-12.000 orang yang ada di pasar. Buruh gendong ada 300 orang. Belum penyuplai dan peran-peran yang lain. Setidaknya dalam sehari ada 15.000 orang yang hidupnya tergantung pada pasar. Bayangkan jika pasar tutup? Efek ganda yang dirasakan akan beragam dan lama. Inilah yang kami hindari,” kata dia.

Karena itu, Disperindag menyiapkan sejumlah strategi untuk meremajakan pasar sehingga dapat terus memenuhi kebutuhan khalayak. Sebagai contoh mengembangkan pasar tradisional sebagai wisata belanja terpadu dengan paket pariwisata hingga kawasan heritage. Jika hal ini terus dilakukan, dia yakin surutnya jumlah pengunjung tak akan menjadi persoalan karena omzet pedagang dapat dipertahankan, bahkan meningkat.  

Konsep dagang elektronik (dagang-el), kata dia, sebenarnya sama dengan pasar konvensional. Para tenant di pasar virtual adalah para penjual di pasar tradisional. Perusahaan dagang-el pun berusaha menghidupkan interaksi sosial di pasar konvensional dengan menampilkan fitur tawar-menawar. Sayang, kata dia, fitur ini sebatas algoritma. Karena itu, Pemkot Jogja mendorong agar Gojek dapat membawa semangat negoisasi pembeli-penjual dalam fitur live chatting. “Kami juga memperjuangkan agar TIK mempertahankan ciri khas pasar tradisional yang ada,” ujar dia.

Pedagang Pasar Tradisional Danang menyatakan perubahan zaman adalah hal lumrah. Kendati demikian dia menilai hal tersebut tak perlu ditakutkan apalagi dihindari. “Buat saya yang terpenting pasar tidak tutup. Kalau sepi, kita masih bisa mengupayakan. Misalnya ya pakai media sosial untuk berjualan atau mengikuti tren teknologi yang ada,” ujarnya.  

Senada, Riswanti mengakui penjualan daring diakuinya memiliki dua mata pisau. Transaksi ini mungkin dapat mendongkrak omzet tetapi juga dapat menyurutkan jumlah pengunjung ke pasar. “Kalau hal tersebut terjadi bagaimana nasib lapak riil?” tanya Risnawati.

Meski dilematis, harus diakui kehadiran teknologi tak bisa dihindari. Apalagi pemanfaatan TIK lebih banyak mendatangkan benefit, sedangkan risiko yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Misalnya, membuka pasar yang lebih luas. Konsumen tidak hanya seputar DIY tetapi juga nasional bahkan mancanegara.

“Supaya pasar tradisional terus eksis, kami bukan sekadar melabeli Pasar Beringharjo sebagai tempat legendaris untuk wisata belanja. Kami berusaha tampilkan wajah baru pada masa recovery,” tutur Riswanti.

Agenda-agenda yang telah dipersiapkan, kata dia, sebagian masih meneruskan program lawas. Seperti menyinergikan Dinas Pariwisata dan Disperindag Kota Jogja untuk acara wisata. Sebagai contoh penyelenggara musyawarah nasional di Jogja tidak hanya terpusat di hotel atau lokasi tertentu, tetapi juga menyertakan paket komplet dengan mengajak peserta berbelanja di pasar tradisional dan destinasi wisata yang lain. 

Infrastruktur Penunjang

Jumlah UKM Berdasarkan Skala Usaha/Harian Jogja-Mediani Dyah Natalia

Sebagai penunjang, Disperindag berusaha melengkapi infrastruktur agar pengunjung dan pedagang dapat dengan bebas mengakses Internet. Namun, diakuinya ketersediaan jaringan ini belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan. Kendati demikian, pedagang berusaha mencukupkan dengan menyediakan Internet secara mandiri. Menurut dia, langkah ini cukup menjadi indikator jika pedagang pasar tradisional kian terbuka akan konsep transaksi online. “Arahnya kami ingin memperbaiki bandwidth dan bekerja sama dengan vendor, tetapi karena Covid-19 belum terealisasi. Semoga ke depan segera dieksekusi,” jelas Gunawan.

Disperindag Kota Jogja juga memfasilitasi penggunaan dompet digital di pasar tradisional. Dimulai dengan pembayaran retribusi elektronik (retribusi-el) menggunakan Link Aja, para pedagang diedukasi untuk terbiasa mengurus masalah keuangan secara digital. Menurut dia, Pasar Beringarjo merupakan pasar pertama di Indonesia yang menerapkan retribusi-el di Indonesia. Kota Jogja pun menjadi pilot project untuk menerapkan hal serupa di kota besar lain.

Disperindag juga mendorong pedagang memanfaatkan dompet digital sebagai alat pembayaran. Selain lebih praktis, ada benefit lain dalam pemanfaatan TIK ini. Sebagai contoh, pedagang tak perlu mempersiapkan uang kembalian. Mereka pun memiliki catatan keuangan yang jelas dan terperinci. Manajemen yang rapi ini akan memudahkan pedagang mengakses permodalan dari perbankan atau lembaga pembiayaan lain.

“Kami juga menjelaskan kepada pedagang untuk tidak mules mendengar TIK. Karena TIK tidak hanya untuk membayar tetapi juga sebagai alat pemasaran. Misal pedagang A datanya sudah diunggah sebagai pedagang daging sapi dan memiliki usaha penggilingan daging, ada narahubung yang tertera. Konsumen dari berbagai wilayah akan tahu dan dengan mudah untuk menghubungi,” ujarnya. 

Pasar Prawirotaman

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 15 Oktober 2019 memulai pekerjaan revitalisasi Pasar Prawirotaman yang terletak di Jalan Parangtritis, Brontokusuman, Kota Jogja. Revitalisasi ini untuk meningkatkan fungsi pasar sebagai sarana perdagangan rakyat sehingga menjadi bangunan yang aman, nyaman, bersih, tertata, dan lebih estetis (tidak kumuh).

Proyek ini akan ditargetkaan selesai selama 240 hari, yakni pada 11 Juni 2020. Lingkup pekerjaannya meliputi renovasi secara menyeluruh dengan anggaran sebesar Rp 67,7 miliar. Konsep revitalisasi pasar disesuaikan dengan fungsi kota sebagai kota tujuan wisata dengan keselarasan lingkungan dan mempertahankan kearifan lokal mulai dari tahap perencanaan hingga pembangunan dengan melibatkan pemerintah daerah setempat.

Riswanti menyampaikan jika tak ada halangan, Pemkot Jogja akan menggelar hajatan besar. Peresmian Pasar Prawirotaman pada masa pemulihan yakni Desember 2020 menjadi momentum bangkitnya perekonomian Kota Jogja. Bangunan empat lantai dengan sebuah lantai bawah tanah dan rooftop ini diharapkan dapat menjadi ikon baru Kota Jogja. “Kami harapkan kesempatan tersebut dapat menjadi masa bangkitnya perekonomian Kota Jogja. Rencana, peresmian dilakukan Presiden [Joko Widodo],” papar Risnawati.

Sesuai konsep yang digadang-gadang Kementerian PUPR, Pasar Prawirotaman akan menjadi wajah baru pasar tradisional di Jogja. Area rooftop pasar akan dipersiapkan sebagai kawasan kreatif. Dia menyampaikan dari 16 subsektor ekonomi kreatif, 11 subsektor akan tersedia di kawasan yang terkenal sebagai Kampung Bule tersebut. Fasilitas yang disiapkan pun lengkap, seperti ketersediaan jaringan Internet untuk berdagang atau berkomunikasi, lokasi co-working space hingga ruang seminar.

“Sebelum ada Covid-19, Pemkot ada rencana menyinergikan pariwisata dan pasar tradisionaal. Saat peresmian sekaligus masa pemulihaan, kami akan membuat acara berskala besar untuk membangun kepercayaan publik jika Jogja aman dikunjungi,” ujarnya. 

Jogja sebagai Smart City

Peringkat 10 Provinsi dengan Daya Saing Digital Tertinggi/Harian Jogja-Mediani Dyah Natalia

Dari sisi wilayah, luas wilayah DIY hanya 3.185,80 kilometer persegi dan jumlah populasi 3,4 juta jiwa [Sensus Penduduk 2010], sedangkan luas Kota Jogja berkisar 32,5 kilometer persegi atau 1,035% dari luas wilayah DIY dan jumlah populasi 387.379 jiwa [Sensus Penduduk 2010]. Wilayah yang relatif kecil ini memudahkan Kota Jogja untuk mewujudkan smart city sesungguhya. 

Melekatnya predikat sebagai kota pendidikan sekaligus budaya memberikan sisi positif bagi Jogja. Setidaknya, dua hal ini membuat ekonomi kreatif tumbuh subur. Sumber daya manusia yang melek digital dan infrastruktur yang cukup memadai menjadi kekuatan Kota Berhati Nyaman ini.

Berdasarkan hasil survei East Ventures-Digital Competitiveness Index 2020 di 34 provinsi, Kota Jogja menempati posisi keempat secara nasional dan di Pulau Jawa. Kekuatan utama DIY adalah pilar penggunaan TIK yang skor 89,7 dan meraih peringkat pertama. Pencapaian ini didorong indikator rasio penduduk yang mengakses Internet dari sekolah dan laptop dengan nilai tertinggi di level nasional dan kedua untuk indikator melalui telepon seluler.

Selain penduduk yang melek digital, kesempatan Kota Jogja menjadi kota pintar turut didukung regulasi dan kapasitas Pemkot Kota Jogja maupun Pemda DIY, skor dalam indeks ini tertinggi secara nasional, yakni 79. Sekali lagi, wilayah yang relatif kecil dibanding daerah lain menjadi fondasi kuat untuk pengembangan lebih lanjut. Situasi ini menyuburkan perekonomian digital, hal ini dibuktikan dengan capaian skor 61 serta pilar keuangan dengan skor 47,7. Pilar keuangan di kota ini merupakan terbesar ketiga secara nasional sedangkan penggunaan TIK di Jogja mendapatkan skor 63,8.

Dengan segala kelebihan ini, Kota Jogja berpotensi besar berdaya secara digital. Apalagi pemerintah atau secara khusus Disperindag Kota Jogja memiliki komitmen mengembangkan Jogja sebagai kota pintar. Ditambah tanggung jawab perusahaan yang fokus pada peningkatan kapasitas tradisional, TIK tak akan melumatkan kearifan lokal yang kental di Jogja. Keberadaan teknologi justru melanggengkan tradisi dalam peradaban modern. Termasuk menjaga eksistensi pasar tradisional di tengah gempuran pusat perbelanjaan modern maupun virtual.