Pasar Mulai Jenuh, Hotel di Indonesia Disarankan Rem Ekspansi

Pasar Mulai Jenuh, Hotel di Indonesia Disarankan Rem EkspansiIlustrasi hotel - JIBI
18 Februari 2019 12:30 WIB Wike Dita Herlinda Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Izin pembangunan hotel dan penambahan kamar baru di kota-kota besar didesak untuk segera disetop sementara. Oversupply kamar mengakibatkan tingkat okupansi menjadi tak maksimal. Kejenuhan pasar ini diharapkan segera teratasi.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan sepanjang tahun ini akan ada penambahan kamar hotel sebanyak 25.000 unit di seluruh Indonesia.

Tahun lalu, realisasi penambahan kamar baru mencapai 28.000 unit, sehingga total kamar hotel bintang yang ada di Indonesia menembus 325.000 unit.

“Sebagian besar [kamar baru] berada di wilayah Indonesia bagian barat yakni DKI Jakarta, Jawa, dan Bali. Pasalnya, permintaan di kedua wilayah tersebut masih besar, terutama untuk di Bali,” ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), belum lama ini.

Menurutnya, pasar perhotelan di kota-kota besar Tanah Air mulai jenuh dan para pebisnisnya pun berhadapan dengan kompetitor dari segmen penginapan nonbintang. Karena itu, Hariyadi mengusulkan adanya moratorium izin pembangunan hotel di daerah-daerah yang sudah kelebihan pasokan kamar.

Alih-alih, dia menyarankan agar pembukaan kamar hotel bintang lebih difokuskan ke wilayah-wilayah yang belum banyak memiliki penginapan agar terjadi pemerataan pembangunan.

“Penyebab okupansi hotel enggak maksimal juga karena banyak tambahan kamar dan hotel baru sehingga memang izin hotel di daerah yang sudah ramai butuh dimoratorium,” ucap Hariyadi.

Diminati Investor

Chairman Bali Hotel Association Ricky Putra mengatakan sepanjang tahun ini, akan ada tambahan lima hingga enam hotel baru di Pulau Dewata dengan jumlah tambahan kamar sebanyak 1.500 hingga 2.000 unit. Sepanjang tahun lalu, lanjutnya, terdapat penambahan enam-tujuh hotel baru dengan total 2.000 hingga 2.500 kamar baru di Bali.

“Memang Bali ini masih diminati investor untuk bangun hotel. Tahun ini lebih sedikit dari tahun lalu karena ada proyek yang tertunda dan baru selesai tahun depan,” katanya.

Saat ini, sebutnya, jumlah kamar hotel di Bali mencapai 140.000 unit yang tersebar di sekitar 2.000 unit hotel bintang di Pulau Dewata. Jumlah ketersediaan kamar di Bali ini lebih tinggi dari jumlah kunjungan wisatawan di Bali.

Rerata okupansi kamar hotel di Bali sekitar 65% hingga 70%. Dengan adanya penambahan kamar dan hotel baru di Bali pun, okupansi diyakini tak akan bisa mencapai 80%. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan terhadap kondisi sektor perhotelan saat ini dengan memberlakukan moratorium atau pembatasan penambahan kamar maupun pembangunan hotel baik berbintang maupun nonbintang di lokasi-lokasi yang sudah oversupply. “Sampai okupansi hotel ini bisa mencapai 75 persen hingga 80 persen, baru dizinkan lagi untuk bangun hotel dan tambah kamar baru,” ucap Ricky.

Pertumbuhan Apartemen

Ketua BPD PHRI Jawa Timur Herry Siswanto mengatakan pertumbuhan hotel baru di Jatim sepanjang tahun lalu mencapai 7%. “Memang ada penambahan hotel baru di Jawa Timur tetapi tak banyak. Tahun lalu ada sekitar 10 hotel baru,” ucapnya.

Pertumbuhan hotel yang menurun pada tahun ini disebabkan apartemen yang juga tumbuh pesat. Pasalnya, apartemen ini kerap disewakan secara harian untuk para wisatawan. “Banyak yang membeli apartemen yang kemudian disewakan. Bisa dikatakan bisnis hotel terselubung karena nonbadan hukum. Sekarang kondisinya sudah menjamur sehingga menekan hotel,” tutur Herry.

Nurul Yonasari, Senior Research Executive PT Colliers International Indonesia, berpendapat bahwa pertumbuhan kamar hotel baru di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bali masih masif.

Pada tahun ini hingga 2022, terdapat penambahan kamar baru hotel berbintang sebanyak 4.266 unit dengan rincian untuk hotel berbintang 3 sebanyak 1.506 unit, bintang 4 sebanyak 1.251 unit, dan bintang 5 sebanyak 1.519 unit di Ibu Kota.

Di Surabaya, akan ada penambahan kamar baru tahun ini hingga 2021 sebanyak 2.634 unit dengan rincian sebanyak 1.032 kamar bintang 3, 998 kamar bintang 4, dan 604 kamar bintang 5.

Sementara itu, di Bali juga akan ada penambahan kamar sebanyak 3.203 unit yang terdiri dari 138 kamar bintang 3, 1.068 kamar bintang 4 dan 2.134 kamar bintang lima dalam rentang 2019 hingga 2022. “Untuk itu, Penyelesaian [kelebihan pasokan kamar] hotel harus ini bertahap,” kata Nurul.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azahari meminta agar pembangunan hotel baik berbintang dan nonbintang didorong ke wilayah timur Indonesia seperti Papua.

“Memang ini seperti telur dan ayam. Pengusaha enggak akan bangun hotel di tempat yang enggak ada infrastruktur dasarnya seperti air, jalan, listrik, telekomunikasi. Namun, pemerintah enggak akan bangun infrastruktur kalau enggak ada investor yang masuk,” tuturnya.

Senior Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto sebelumnya menuturkan untuk menarik investasi pembangunan hotel di wilayah Indonesia bagian Timur, pemerintah harus membangun terlebih dahulu hotel-hotel di wilayah itu.

“Dari investasi yang dilakukan pemerintah itu maka akan memperbesar market di sana. Pasti swasta akan mengikuti pembangunan hotel di sana. Saat ini yang paling banyak di kawasan Bali dan Jakarta,” katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia