Ini Cara Pengembang Menengah Hadapi Serangan Developer Besar

Ini Cara Pengembang Menengah Hadapi Serangan Developer BesarPerumahan di Sentul City - Antara
18 Juli 2021 11:57 WIB Yanita Petriella Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pengembang menengah harus berpikir keras untuk menyiasati gempuran developer besar di tengah pandemi Covid-19 dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

Direktur Utama GNA Group Gregorius Gunho mengatakan bahwa saat ini ada pengembang besar yang turut serta dalam membangun rumah tapak dengan harga di bawah Rp1 miliar. Padahal, sebelum pandemi pengembang itu selalu mengambil pangsa pasar hunian di atas Rp1 miliar.

Dia pun mengaku cukup kaget ketika banyak pengembang besar yang beralih menggarap segmen hunian yang lebih murah, ukuran lebih kecil, dan menyasar milenial.

“Pengembang besar, 2 tahun ini turun harga satuannya, karena mereka tidak mau rugi. Tidak ada cash jualan juga susah, sehingga reasonable. Mereka profit masih tebel, dulu beli tanah Rp200.000—Rp300.000 dan sekarang menjadi Rp13 juta—Rp15 juta, tetapi sekarang dijual Rp10 juta—Rp11 juta agar bisa diserap konsumen,” katanya dalam diskusi Prolab School of Property, Sabtu (17/3/2021).

Untuk dapat bersaing dengan pengembang besar, kata dia, saat ini pengembang menengah harus membuat rumah dengan desain yang bagus, luas lahan lebih besar, harga kompetitif, dan kemudahan serta cara bayar yang fleksibel.

Dia pun mengeluhkan, strategi kemudahan bayar yang dilakukan oleh pengembang besar untuk menarik konsumen.

“Kemudahan bayar pengembang besar agak tidak masuk akal. Misalnya DP [down payment] Rp100 juta dicicil 18 kali. Kira-kira dapatnya berapa? Itu buat bangun [rumah] tidak cukup. Jualan memang bagus, semua klaster terjual, tetapi secara cashflow pasti susah,” ujarnya.

Director Greenwood Group Michael Sugiharto menuturkan, pihaknya lebih memilih untuk melakukan penyesuaian desain dan fasilitas perumahan agar tidak kalah oleh pengembang besar.

“Kami juga fleksibilitas dengan harga, karena produk kami bisa lebih rendah dan efisien. Kemudian serah terima unit pada konsumen, kami waktunya bisa lebih cepat dibandingkan dengan developer besar. Konsumen bisa terima unit lebih cepat, sehingga kami yakin konsumen bisa pilih ke kami,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan perusahaan saat ini menunda dua proyek apartemen di Jakarta Barat dan Yogyakarta akibat pandemi Covid-19. Proyek apartemen di Yogyakarta sendiri menyasar kelas premium, sehingga tidak memungkinkan untuk dilanjutkan dalam kondisi saat ini.

“Kami ada 55 proyek, ada dua proyek yang di-hold, di Jakarta Barat dan Yogyakarta. Termasuk di Jakarta Barat, sempet sudah terjual tetapi kami sudah hold. Kondisi pasar apartemen yang belum bisa support, sehingga proyek apartemen kami ada yang di-hold,” jelasnya.

Direktur MAS Group Muhammad Adhiguna Sosiawan menuturkan, salah satu strategi yang dilakukan untuk bertahan di tengah pandemi adalah dengan melakukan perubahan harga dan ukuran agar dapat bersaing dengan pengembang besar.

“Contohnya, salah satunya di Serpong, dimana salah satu developer besar mengeluarkan produk seharga Rp800 juta dengan lebar 3 meter dan 1 kamar tidur. Jadi kami mengeluarkan produk dengan lebar 5 meter dan 3 kamar tidur, tetapi memiliki harga yang sama,” jelasnya.

Meski begitu, dia juga tidak menampik jika bersebelahan dengan produk hunian dari pengembang besar akan sangat menguntungkan. Pasalnya, banyak konsumen yang mencari rumah di kawasan sekitar hunian milik pengembang besar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia